Tuesday, November 21, 2017

Merapi Dalam Catatan dan Khayalan

Dok pribadi 

Menjadi seorang yang katanya pejalan tampaknya agak sulit. Dari sini aku mendapati bahwa aku kembali menyukai seorang Srikandi. Ia begitu peduli ketika aku sedang dalam pengaruh alkohol di Pos 2 pendakian Gunung Merapi. Aku memang benar-benar tidak sadar ketika kawan pendakianku ber-celoteh padaku bahwa ia begitu peduli walau aku dalam keadaan tidak sadar.

Sekarang aku mencoba untuk meninggalkan alkohol. Maha dari segala Maha telah mengirimkan utusan untuk memperingatkan ku. Merapi memang gagah dan tampaknya petuah "merapi tak pernah ingkar janji," merapi mengingatkan aku untuk kembali menjadi sebagai pejantan bersih melalui seorang biduan khayangan.

Cerita lain ketika ia mencari tahu salah satu inti bukuku yang baru saja ia pinjam. Aku tak mau menjelaskan kalau belum selesai membaca dan memahaminya. Tetapi, dalam keadaan tidak sadar aku telah membeberkan inti buku tersebut. Biarkan saja dia mengenal aku dengan caranya sendiri. Tidak dari referensi bacaaan yang ia baca, suara orang yang ia dengar, tetapi dia menurut dia sendiri.

Pendakian yang seharusnya begitu hambar berubah menjadi prahara berbalut kasih. Aku tak perlu mengungkapnya. Takut kehilangan malaikat hanya karena istilah “pacaran,” biarkan saja berjalan bersama entah mau diberi istilah apa. Lebih baik tidak mengikat.

Gunung ternyata tidak hanya memberi ketenangan maupun kesegaran. Melainkan juga memberi dorongan berfikir bahwa seorang pejalan hanyalah sebutan belaka. Merapi mengingatkan aku untuk tetap terbuka, memainkan peran sebagai orang yang bebas dan terus terbang.

Aku tak pernah menyimpulkan hidup harus seperti apa, penuh apa, memiliki apa. Karena Merapi aku harus menyadari agar tetap menjadi seorang amatir menjadi orang yang mudah berarus lebih baik daripada orang yang membendung.

"merapi tak pernah ingkar janji,"

Merapi Dalam Catatan dan Khayalan